Nama
: Ahmad Syaefudin
Semester
VII STAI Nur El-Ghazy
Sebelum
mengetahui pengertian kematangan emosi, Apakah emosi itu? Menurut Goleman
(1995) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan
biologis dan psikologis dan kecenderungan untuk bertindak (Goleman, 1995;289) Emosi
adalah keadaan perasaan yang banyak berpengaruh pada perilaku. Biasanya emosi
merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu, emosi
berkaitan dengan perubahan fisiologi dan berbagai pikiran, jadi emosi merupakan
salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia (Prawitasari, 1995). Kadang
kita sering menyamakan emosi dengan marah. pengertian ini tidak salah, tetapi
kurang tepat, karena marah hanyalah sebagian kecil dari emosi. Sedih, senang,
haru juga bagian dari emosi dan terkadang kita tidak sanggup mengendalikannya.
Chaplin
(1989) mendefinisikan kematangan emosi sebagai suatu keadaan atau kondisi
mencapai tingkat kedewasaan perkembangan emosional. Ditambahkan Chaplin (dalam
Ratnawati, 2005), kematangan emosi adalah suatu keadaan atau kondisi untuk
mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosional seperti anak-anak,
kematangan emosional seringkali berhubungan dengan kontrol emosi. Seseorang
yang telah matang emosinya memiliki kekayaan dan keanekaragaman ekspresi emosi,
ketepatan emosi dan kontrol emosi. Hal ini berarti respon-respon emosional
seseorang disesuaikan dengan situasi stimulus, namun ekspresi tetap
memperhatikan kesopanan sosial (Stanford, 1965).
Kematangan
emosi merupakan aspek yang sangat dekat dengan kepribadian. Bentuk kepribadian
inilah yang akan dibawa individu dalam kehidupan sehari-hari bagi diri dan
lingkungan mereka. Seseorang dapat dikatakan telah matang emosinya apabila
telah dapat berpikir secara objektif. Kematangan emosi merupakan ekspresi
emosi yang bersifat kontruktif dan interaktif. Individu yang telah mencapai
kematangan emosi ditandai oleh adanya kemampuan didalam mengontrol emosi, mampu
berpikir realistik, memahami diri sendiri dan mampu menampakkan emosi disaat
dan tempat yang tepat.
Faktor yang Mempengaruhi Kematangan Emosi
Dalam proses pencapaiannya,
kematangan emosi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berikut ini akan dikemukakan
faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pencapaian kematangan emosi:
a. Faktor Fisik
Dalam studi yang dilakukan oleh Davidson dan Gottlieb (dalam Powell, 1963) ternyata ditemukan adanya perbedaan tingkat perkembangan emosi maupun intelegensi antara wanita yang belum mengalami menarche (pre-menarcheal girls). Wanita yang telah mengalami masa menarche memiliki tingkat perkembangan emosi maupun inteligensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang belum mengalami masa menarche. Hal tersebut diakibatkan karena terjadinya perubahan hormonal tubuh yang dimilikinya.
Dalam studi yang dilakukan oleh Davidson dan Gottlieb (dalam Powell, 1963) ternyata ditemukan adanya perbedaan tingkat perkembangan emosi maupun intelegensi antara wanita yang belum mengalami menarche (pre-menarcheal girls). Wanita yang telah mengalami masa menarche memiliki tingkat perkembangan emosi maupun inteligensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang belum mengalami masa menarche. Hal tersebut diakibatkan karena terjadinya perubahan hormonal tubuh yang dimilikinya.
Dalam studi lainnya dengan subjek yang berjenis
kelamin laki-laki, Mussen dan Jones (dalam Powell, 1963) menunjukkan hasil
studinya bahwa anak laki-laki yang terlambat masak secara fisik (physically
retarded) ternyata menunjukkan kebutuhan akan social-acceptance
dan agresivitas yang tinggi bila dibandingkan dengan anak laki-laki yang telah
masak secara cepat, setelah subjek diperintahkan untuk merating dari sembilan
jenis kebutuhan yang disediakan. Hal ini dikarenakan, anak laki-laki yang
secara fisik terlambat masak memiliki rasa insecure dan dependence yang lebih
besar.
b. Pola-pola Kontrol Terhadap Emosi
Livson dan Bronson (dalam Powell, 1963) berpendapat bahwa dalam mencapai kematangan emosi, pola-pola kontrol emosi yang ideal perlu dimiliki oleh individu, misalnya tidak melakukan represi-represi emosi yang tidak perlu dan mengendalikan emosi dengan wajar dan sesuai dengan harapan-harapan sosial.
Livson dan Bronson (dalam Powell, 1963) berpendapat bahwa dalam mencapai kematangan emosi, pola-pola kontrol emosi yang ideal perlu dimiliki oleh individu, misalnya tidak melakukan represi-represi emosi yang tidak perlu dan mengendalikan emosi dengan wajar dan sesuai dengan harapan-harapan sosial.
c. Intelegensi
Faktor-faktor intelegensi berpengaruh dalam persepsi diri, self evaluation, atau penilaian (appraisal) terhadap orang lain dan situasi lingkungan. Individu dengan inteligensi tinggi, kemungkinan akan memperoleh insight dalam pemecahan masalah emosianalnya secara lebih besar.
Faktor-faktor intelegensi berpengaruh dalam persepsi diri, self evaluation, atau penilaian (appraisal) terhadap orang lain dan situasi lingkungan. Individu dengan inteligensi tinggi, kemungkinan akan memperoleh insight dalam pemecahan masalah emosianalnya secara lebih besar.
d. Jenis Kelamin
Perbedaan hormonal maupun kondisi psikologis antara laki-laki dan wanita menyebabkan perbedaan karakteristik emosi di antara keduanya. Kahn (dalam Hasanat, 1994) menyatakan bahwa wanita mempunyai kehangatan emosionalitas, sikap hati-hati dan sensitif serta kondisi yang tinggi daripada laki-laki. Oleh karena itu, laki-laki lebih tinggi dalam hal stabilitas emosi daripada wanita.
Perbedaan hormonal maupun kondisi psikologis antara laki-laki dan wanita menyebabkan perbedaan karakteristik emosi di antara keduanya. Kahn (dalam Hasanat, 1994) menyatakan bahwa wanita mempunyai kehangatan emosionalitas, sikap hati-hati dan sensitif serta kondisi yang tinggi daripada laki-laki. Oleh karena itu, laki-laki lebih tinggi dalam hal stabilitas emosi daripada wanita.
Lone (1986) menerangkan penyebab mengapa wanita
lebih bersifat emosionalitas daripada laki-laki. Hal tersebut terjadi karena
wanita memiliki kondisi emosi didasarkan peran sosial yang diberikan oleh
masyarakat, yaitu wanita harus mengontrol perilaku agresif dan asertifnya,
tidak seperti peran sosial laki-laki. Hal ini menyebabkan wanita kurang dapat
mengontrol lingkungannya, yang pada akhirnya menimbulkan kecemasan-kecemasan.
e. Usia
Kemasakan emosi seseorang, perkembangannya seiring dengan pertambahan usia. Hal ini dikarenakan kematangan emosi dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan dan kemasakan fisik-fisiologis daripada seseorang. Sedangkan aspek fisik- fisiologis sudah dengan sendirinya ditentukan oleh faktor usia. Akan tetapi, tiap-tiap individu adalah berbeda (menurut pendekatan ideografi).
Kemasakan emosi seseorang, perkembangannya seiring dengan pertambahan usia. Hal ini dikarenakan kematangan emosi dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan dan kemasakan fisik-fisiologis daripada seseorang. Sedangkan aspek fisik- fisiologis sudah dengan sendirinya ditentukan oleh faktor usia. Akan tetapi, tiap-tiap individu adalah berbeda (menurut pendekatan ideografi).
Faktor fisik-fisiologis juga belum tentu mutlak
sepenuhnya mempengaruhi pekembangan kemasakan emosi, karena kemasakan emosi
merupakn salah satu fenomena psikis. Tentunya determinan psikis terhadap
kemasakan emosi ini beragam, baik faktor pola asuh keluarga, lingkungan sosial,
pengalaman traumatik, pendidikan dan sebagainya. Jelasnya individu pada usia
yang sama belum tentu mencapai tarap kemasakan emosi yang sama pula.
Kriteria Kematangan Emosi
1.
Kemampuan untuk beradapatasi dengan realitas.
Kemampuan yang
berorientasi pada diri individu tanpa membentuk mekanisme pertahanan diri
ketika konflik-konflik yang muncul mulai dirasakan menganggu perilakunya. Orang
yang masak secara emosional melihat suatu akar permasalahan berdasarkan fakta
dan kenyataan dilapangan, tidak menyalahkan orang lain atau hal-hal yang
bersangkutan sebagai salah faktor penghambat. Ia dapat beradaptasi dengan
lingkungannya dan selalu dapat berpikir positif terhadap masalah yang
dihadapinya
2. Kemampuan untuk
beradaptasi dengan perubahaan.
Perubahan
mendadak kadang membuat seseorang menjadi menutup diri, menjaga jarak atau
bahkan menghindari dari hal-hal yang berkisar lingkungan barunya. Kemasakan
emosi menandakan bahwa seseorang dapat begitu cepat beradaptasi dengan hal-hal
baru tanpa menjadikannya sebagai tekanan atau stresor. Kemampuan ini dapat
tumbuh sebagai bentuk adaptasinya dengan lingkungan baru yang sengaja
diciptakan untuk mengurangi stres yang dapat berkembang dalam dirinya
3. Dapat mengontrol gejala
emosi yang mengarah pada kemunculan kecemasan
Munculnya
kepanikan berawal dari terkumpulnya simpton-simpton yang memberikan radar akan
adanya bahaya dari luar. Penumpukan kadar rasa cemas berlebihan dapat
memunculkan kepanikan yang luar biasa. Orang yang mempunyai kemasakan emosi
dapat mengotrol gejala-gejala tersebut sebelum muncul kecemasan pada dirinya.
4. Kemampuan untuk menemukan
kedamaian jiwa dari memberi dibandingkan dengan menerima.
Semakin sehat
tingkat kematangan emosi seseorang, individu tersebut dapat menangkap suatu
keindahan dari memberi, ketulusan dalam membantu orang, membantu fakir miskin,
keterlibatan dalam masalah sosial, keinginan unutk membantu orang lain, dan
sebagainya.
5. Konsisten terhadap
prinsip, janji dan keinginan untuk menolong orang yang mengalami kesulitan.
Orang yang
matang secara emosi adalah orang-orang yang telah menemukan suatu prinsip yang
kuat dalam hidupnya. Ia menghargai prinsip orang lain dan menghormati
perbedaan-perbedaan yang ada. Ia selalu menepati janjinya dan selalu
bertanggung jawab dengan apa yang telah di ucapkannya. Ia juga mempunyai
keinginan untuk menolong orang lain yang mengalami kesulitan.
6. Dapat meredam instink negatif
menjadi energi kreatif dan konstruktif.
Kematangan
emosi yang dimiliki oleh individu akan dapat mengontrol perilaku-perilaku
impulsif yang dapat merusak energi yang dimiliki oleh tubuh, individu dapat
melakukan hal-hal yang bersifat positif dibandingkan memenuhi nafsu yang dapat
merusak dan bersifat merusak. Ia mempunyai waktu yang lebih banyak untuk
melakukan hal-hal yang lebih berguna untuk dirinya dan orang lain
7. Empati
Empati adalah
kemampuan dalam membaca emosi orang lain, kemampuan merasakan perasaan orang
lain, melalui keterampilan membaca pesan nonverbal, nada bicara, gerak-gerik,
ekspresi wajah dan sebagainya. Kemampuan ini berkaitan dengan kesadaran emosi.
Orang yang memiliki empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal social yang
tersembunyi.
8. Kemampuan untuk mencintai.
Cinta
merupakan energi seseorang untuk bertahan dan menjadikannya lebih bergairah
dalam menjalani hidup. Tidak hanya cinta antara sesama manusia, pengalaman
spiritual, mencintai Tuhan pun merupakan keindahan bagi mereka yang yang
merasakan keterdekatan dengan Sang Ilahi.
Referensi
·
Hasanat, N. 1994. Apakah Perempuan lebih
Depresif dari Laki-laki? Laporan Penelitian (tidak diterbitkan) Yogyakarta:
Fakultas Psikologi UGM
Lone, P. & Shrene, A. 1986. Working Woman: A Guide to Fitness and Health. Toronto: The Mosby, Co.
Lone, P. & Shrene, A. 1986. Working Woman: A Guide to Fitness and Health. Toronto: The Mosby, Co.
·
Powell, M. 1963. The Psychology of Adolescence.
New York: The Bobbs-Meril, Co.
·
Young, P. T. 1950. Emotion in Human and Animal.
New York: John Willey & Son, Inc
·
Duniapsikologi.com.2012."Kematangan
Emosi;Pengertian dan Faktor yang Mempengaruhi". Dalam
"http://www.duniapsikologi.com/kematangan-emosi-pengertian-dan-faktor-yang-mempengaruhi/"
·
Google.2012."Emosi:
Kematangan Emosi". Dalam
"http://enggarasyari.wordpress.com/2012/01/13/emosi-kematangan-emosi/"